Status, ibadah atau statusisasi ibadah??

Lagi baca-baca korang usang terbitan kemarin, dapet juga inspirasi nulis artikel baru. Apalagi berita plus momennya masih anget-anget kuku, soal ibadah Haji. Sip, brangkat.

Sekitar 2 tahun lalu, aku dapat kesempatan praktek kerja di Kantor Imigrasi kelas II Blitar. Alasannya simpel, dan klasik: karena dekat sama rumah, plus bergengsi gitu kerjaannya (kan kantoran, ohoho).

Hasilnya? Sangat puas.

Meski periodenya terhitung singkat, gak sampai 3 bulan, pengalaman bekerja di instansi dengan tingkat kedisiplinan tinggi kayak gini sangatlah berharga. Tentunya ini kan gak lepas dari status Kantor Imigrasi yang berada di bawah naungan Kemenkumham.

Banyak banget kerjaan disana, kalau kalian bertanya-tanya. Mulai ngurusin orang-orang yang teriak gara-gara antrian banyak dan merasa beliau itu orang-yang-penting-sekali, ngurusin bule yang nunggu dideportasi gara-gara masuk tanpa visa, balapan sama waktu buat ngirim undangan keseluruh Kantor Imigrasi di Indonesia, kacaunya proses pendataan pemain bola asing yang masih adu ngotot sama PT. Liga, Ngurusin jaringan yang ruwetnya mirip kaya alur visual novel, jadi mekanik barang-barang elektronik sampai angkat barang-barang punya bapak/ibu/adik/kakak/kakek/nenek calon jamaah haji.

Yah, entah namanya beruntung atau apes, sebulan setelah kami (kita bertiga disana) menjejakkan kaki dan ‘kerja’ disana, waktunya pengurusan paspor buat calon jamaah haji. Bukan apa-apa sih, tapi mengurus paspor buat CJH dari 7 kabupaten kota (Kota Blitar, Kab. Blitar, Kab. Tulungagung, Kab. Kediri, Kota Kediri, Kab. Trenggalek dan Kab. Nganjuk) sama sekali gak gampang, dan teramat melelahkan.

Ada banyak cerita suka dan duka dalam pelayanan kami tiap ada ‘event’ kayak gini. Ada banyak cerita lucu yang membuat pelayanan kami berwarna-warni. Mulai dari jamaah haji tertua yang kelahiran 1920an, dan yang paling muda masih baru lulus SMA. Wow, kaget juga soalnya ngeliat adek2 cakep nyelonong buat masuk sesi foto-foto buat paspor. Ngakunya sih telat gara-gara abis kuliah, super banget emang umur segitu udah dapet kesempatan naik haji. Btw antrinya berapa tahun ya dia kok udah bisa di umur yang sekiranya kutaksir gak lebih dari 19 tahun (kelahiran 92 kalo gak salah).

Waktu yang (seingatku) berbarengan sama bulan puasa jadi handicap utama, apalagi kebanyakan CJH itu orang tua, sepuh. Mau diajakin cepat, sulit ngikutin prosedur pembuatan paspor. Masalah sederhana lain, meski udah banyak yang punya paspor, paspor mereka bakalan muspro (percuma-tak-berguna) kalo diserahin ke Imigrasi Arab. Niat mau minta visa haji bisa-bisa malah dideportasi. Alasannya sebenarnya sedikit banyak konyol menurutku: Pemerintah Arab itu minta agar nama CJH dikondisikan ada 3 penggal kata. Sederhananya kalo ada yang namanya (misalnya) ahmad, orang itu musti nambahin namanya 2 kata biar pas sama regulasi. Cara ngakalinya gampang sebenernya, nama belakang yang kurang tersebut diambil dari nama orang tua. Kalo ahmad tadi punya bapak yang namanya aziz nur, maka namanya diganti jadi Ahmad Aziz Nur. kalo udah ditambahin nama bapaknya trus kurang, ngambilnya dari nama kakek. Kebayang kan kalo kami musti cross-check sama orang yang rata-rata lansia itu buat mengingat dengan pasti nama kakek mereka?

Stop chit chat ah, intinya sangat menyenangkan bisa membantu mereka naik haji. Rasanya capek hasil begadang di kantor dan masuk di hari liburpun terbayar dengan keberangkatan mereka.

Hanya saja kadang-kadang timbul pikiran buatku, mereka yang naik haji saat itu murni karena ingin ibadah atau untuk menaikkan prestise? Ah, aku sih berbaik sangka saja, tentu mereka punya alasan yang baik dibalik niat mereka untuk berhaji.

Jadi teringat bapak temenku yang udah berhaji kurang lebih 4 kali waktu SMP dulu, sampe2 aku kembung minum air zam-zam yang dibawain. Itu cerita lama memang, toh beliau sebagai seorang petani dan tukang giling padi memang bekerja keras untuk itu, jadi rasanya sah-sah saja berangkat haji sampai beberapa kali. Tapi melihat kenyataan sekarang, jujur aku merasa miris banget. Bagaimana sekarang antrian haji tuh gila-gilaan lamanya. Iya kalo yang daftar masih segar bugar, nah kalo yang udah renta gimana?

Harus diakui, banyak juga orang yang hidupnya dibawah rata-rata secara ekonomi berjuang untuk menjalankan ibadah ini, dan rata-rata baru terlaksana kecukupan materinya saat mereka lanjut usia. Aku sih gak mempermasalahkan lamanya antrian, toh menilik keadaan saat ini, gak mungkin juga membatasi keinginan mereka untuk berangkat haji. Yang disesali adalah ada juga orang yang sekedar mencari prestise dengan naik haji berkali-kali, atau juga orang yang menyodok antrian(katanya sih biasanya pejabat).

Mungkin kawan-kawan juga bertanya-tanya, kenapa cuma di orang melayu saja gelar Haji dan Hajjah ada dalam sistem sosialnya?

Oiya mbah google lebih dari mumpuni buat menjawab pertanyaan diatas, tapi jangan ditelan bulat-bulat, soalnya gak mesti bener juga dan bisa dipertanggungjawabkan hasilnya.

Aku toh gak tau apa yang paling benar dalam kasus kayak gitu, aku juga toh gak bakalan tau intensi asli mereka. Aku cuma pengen liat semuanya dapat kesempatan yang sama, untuk beribadah. Kasian orang-orang kecil kalau terus-terusan diberdayai sistem.

Semoga kawan-kawan sekalian berkenan menerima maaf kalau ada kata-kataku yang salah, toh ini hanya sebatas opini dan pengamatan. Syukur-syukur kalau dugaan kurang baik saya tidaklah benar, dan keinginan mereka murni ibadah.

Keep smile dan #jebret! #ahay

 

P1050730 [Desktop Resolution]

P1050732 [Desktop Resolution]

Advertisements

Silahkan berkomentar...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s