Purnama

dipenuhi emosi, berpeluh jiwa dan raga
ditempa cinta, berbalut derita
lampu jalan menyapa pelan
mengusik gelap yang perlahan meluap

Hai purnama, kau mau mengejekku?
Mengapa kau hanya singgah menerangi malam ini?
Kemana kau kemarin?
Kau mau kembali esok hari?

Hai purnama, kaulihat mataku?
Mata yang penuh binar, bukankah kini jadi nanar?
Mengapa kau diam?
Saat aku berteriak sampai serak?

Advertisements

Silahkan berkomentar...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s