Asing

Jika kalian bertanya-tanya kenapa aku masang gambar diatas, jawabannya tak lain dan tak bukan adalah karena inilah kenyataan yang mau-gak-mau kita hadapi. Mungkin buat kalian yang tinggal di kota, hal ini bisa jadi salah satu lelucon, tapi percayalah masih ada saudara-saudara kita yang bahkan belum merasakan kesetrum, eh maap salah maksudnya belum ngerasain dijamah listrik, apalagi teknologi macam laptop.

Balik lagi ke masa PPL di SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang yang indah permai, sebagai guru dan tukang bikin teh kopi disana, akupun dihadapkan pada keadaan yang mirip, kalaupun tak bisa dibilang jauh lebih buruk. Pernah salah satu guru dengan entengnya berujar sederhana tentang bagaimana pada hari pertama sekolah dimulai, murid-muridnya yang baru masuk ke kelas X TKJ bertanya dengan polosnya:

“Pak, boleh saya pegang laptopnya? Saya belum pernah liat dan pegang soalnya…”

Aku yang mendengar ceritanya, cuma bisa mengelus dadaku yang rata ini. Mencoba menelisik dan mencerna kata-kata yang dilontarkan bapak Guru tadi dengan benar. Yah benar, mereka bahkan belum pernah melihat tanktop, eh laptop. Mereka yang masuk dijurusan yang notabene sangat berhubungan dengan perangkat komputer tak pernah melihat laptop, apalagi memegangnya.

Asing.

Mungkin kita udah sadar banyak daerah yang tertinggal di Indonesia, tapi aku pribadi gak pernah menyangka di Malangpun ada anak-anak seperti mereka. Usut punya usut, memang meski mereka bersekolah di SMK Kota, asal mereka kebanyakan adalah satu daerah yang bisa dibilang cukup jauh, mungkin setidaknya 20-25 km, Tajinan.

Tajinan adalah daerah basis rekrutmen murid untuk SMK kami, mengingat disana memang banyak anak yang jarang punya kesempatan bersekolah karena biaya dsb. Banyak pula dari mereka yang menempati ruang kelas yang tak terpakai di lantai 3 untuk tinggal, semacam asrama. Yang lain banyak pula memilih menumpang di Panti Asuhan di daerah Bareng [Kalo gak salah]. beberapa yang beruntung memiliki sepeda motor memilih melakukan perjalanan pulang pergi, yang lebih dari melelahkan.

Sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi, tapi bukan penghalang yang cukup untuk meruntuhkan mental belajar mereka. Lagipula kami tak punya kesempatan untuk menangisi dan mengeluh soal remeh macam ini. Saat berkesempatan mengajar langsung mereka, antusiasme yang mereka tunjukkan cukup membuatku merinding. Untung saat itu aku masih memakai jas almamater sehingga tak begitu kentara. Mereka telah jadi pelitaku, jadi sesuatu yang menerangi hidupku sekaligus menghangatkannya.

Lebih dari sekedar kata-kata

Salam, dari seorang yang ingin melihat kalian melampauinya, segera.

Advertisements

Silahkan berkomentar...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s