Deutsche Uber Alles [1]

 

Akhirnya, setelah penantian sekian lama, akhirnya generasi emas Timnas Sepakbola Jerman berhasil merebut trofi paling prestisius bagi pesepakbola, Piala Dunia!!!

Yang jelas, mereka memang pantas mendapatkannya. Denger2, setelah kerja keras mengembangkan sepakbola semenjak tragedi euro 2000, DFB (PSSI-nya Jerman) menggenjot pusat-pusat penggodokan talenta-talenta muda di seluruh Jerman. Kompetisi usia muda digalakkan, hingga beberapa tahun kemudian talenta-talenta baru mulai terasah.

Saya mengikuti Timnas Jerman sejak penyelenggaraan Piala Dunia 2002 Korsel-Jepang. Tahun2 sebelumnya? Bisa saya pastikan saya lagi tidur, hehe. Perbedaan jam tayang sehingga disini disiarkan larut malam membuat saya tak terlalu antusias mengikuti penyelenggaraan sepakbola diluar indonesia.

Sebelumnya, saya juga tak terlalu suka bola, cuma memang kehidupan saya dekat sekali dengan bola. Ayah saya (dulunya) atlit, pada masa mudanya juga berkali-kali jadi wasit dan komentator lapangan. Saat perutnya membuncit bapak mengajar olahraga di sekolah terdahulu (bapak saya guru SD) hingga akhirnya menjauh dari olahraga semenjak jadi kepala SD di tempat lain.

Kesukaan orang2 disekitar saya terhadap olahraga, terutama bola dan tinju bikin saya tergoda juga. Sebelumnya saya sudah lama mengikuti Ligina saat itu, saya juga ingat masih punya kaos Gelora Dewata (Gede) yang berbasis di Bali hingga seingat saya akhirnya kini dilebur menjadi Delta Putra Sidoarjo (Deltras).

Piala Dunia 2002 yang diadakan di Asia disiarkan siang-sore hari. Waktu yang ideal buat anak kelas 5 SD menonton bola tanpa musti merem melek kaya orang kelilipan.

Dan saat itu, bagi saya yang paling eye-catching ya penampilan ciamik dari Oliver Kahn. Wajah khas orang teuton dengan tatapan mengintimidasi lawannya bikin terkesima. Saya mengikuti terus kiprah timnas jerman yang dikapteni idola saya itu. Dan sudah pasti, saat ditanya bapak saya siapa yang bakal jadi juara, there’s no other option: Germany!

Hingga saat tiba final yang bikin hati remuk redam saat itu. Ronaldo si rambut kuncung bikin 2 gol ke gawang King Kahn. Damn!!!

Pada akhirnya Oliver Kahn jadi pemain terbaik di turnamen itu, meski waktu itu mata saya juga lekat ke kiper2 lain yang sangat menghibur saat itu (setidaknya menurut saya) yaitu Jose Luis Chilavert, yang secara luar biasa aktif bermain kedepan jauh dari gawangnya. Satu lagi honorable mention saya, Rustu Recber. Kiper dengan reflek penyelamatan yang mencengangkan saat itu. Saya yang beberapa waktu lalu iseng cari video aksinya di youtube pun masih saja terkesima dengan cara dia bermain. Tak bisa membayangkan gimana hebatnya si Laba-Laba hitam Lev Yashin kalo kiper yang ‘gak punya nama’ aja kaya om Recber mainnya kaya gitu. Setelah itu, recber langsung direkrut oleh Barcelona.

Satu lagi, mulai saat itu perhatian saya juga tertuju kepada pengadil lapangan, si legenda Pierluigi Collina. Saya juga jadi ngefans sama dia, hahaha

Bermimpi dan berjuang, lagi dan lagi.

Cuma Tuhan dan Orang Tua yang tidak bisa dikalahkan.

~Evan Dimas

Tiga gol Evan Dimas meremukkan perjuangan Taeguk Warrior di Gelora Bung Karno. Tiga gol yang sangat manis, seakan menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia punya mimpi yang pantas dikejar, mimpi untuk menjadi negara yang lebih baik dalam pagelaran dunia sepakbola.

Korea?

Mengikuti perjuangan mereka sedari perhelatan AFF Cup Under-19, sudahlah bisa dilihat bahwa secara kemampuan, baik teknik, fisik serta mental dan semangat bertanding mereka sangatlah luar biasa. Top Notch.

Continue reading